11/12/2025
Dunia di Ambang Krisis: Indonesia Masuki Fase Genting Iklim & Lingkungan”
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengingatkan bahwa dunia kini tengah berada dalam situasi yang semakin mengkhawatirkan. Tiga ancaman besar—perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi—kini disebut sebagai triple planetary crisis yang sudah berada pada tingkat darurat.
Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon KLHK, Ary Sudijanto, menjelaskan bahwa kondisi krisis yang terjadi, baik secara global maupun di Indonesia, telah mencapai titik yang mengancam keberlangsungan hidup manusia.
Ary menegaskan bahwa krisis iklim saat ini berbeda dengan perubahan iklim ekstrem yang pernah memicu hilangnya dinosaurus jutaan tahun lalu. Jika dahulu penyebabnya adalah tabrakan asteroid, kali ini sumber kerusakannya justru berasal dari aktivitas manusia sendiri.
“Karena ulah kita, maka kita p**a yang harus mengambil langkah untuk menghentikan krisis ini,” ujar Ary dalam sebuah forum di Jakarta, Kamis (11/12/2025), mengutip laporan Antara.
Sumatera Jadi Bukti Nyata Krisis Iklim
Sebagai contoh, Ary menyoroti bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera pada akhir November lalu. Kemunculan bibit siklon tropis—fenomena yang sebelumnya hampir tak pernah muncul di wilayah tersebut—menjadi tanda jelas bahwa iklim telah berubah drastis.
Dampaknya pun sangat besar.
BNPB mencatat kebutuhan Rp 52 triliun hanya untuk pemulihan infrastruktur.
Celios memperkirakan Rp 50 triliun dibutuhkan untuk perbaikan dan pemulihan lingkungan.
⚡ Transisi Energi: Bukan Beban, Tapi Perlindungan
Menurut Ary, penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) serta percepatan transisi menuju energi bersih bukanlah beban bagi pelaku usaha. Sebaliknya, langkah tersebut adalah investasi penting untuk melindungi bisnis dari ancaman bencana iklim yang semakin sering terjadi.
Ia menekankan bahwa bencana di Sumatera utara sudah mengganggu aktivitas perusahaan dan rantai pasok di wilayah tersebut. Jika perubahan tak segera dilakukan, dampaknya akan semakin besar.
“Transisi energi adalah upaya bersama. Negara dan dunia usaha harus bergerak cepat untuk mencegah krisis yang lebih buruk,” tegasnya.