20/01/2019
Di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi dan penghuninya s**a kepo ini, pertanyaan paling sering diajukan pertama kali adalah "Agamamu apa? " atau "apa kamu sudah punya pacar / menikah".
Dari anak TK sampai dewasa, mostly itu adalah topik yang dipertanyakan. Alih - alih bertanya tentang bagaimana kehidupan disana, sistem pemerintahannya, budayanya, permasalahan sosialnya, atau hal - hal yang lebih " Answer-able".
Ada 2 hal yang saya simpulkan
1. Pola pikir kita seragam
2. Kemanusiaan seseorang selalu diukur dari kesamaan agama dan moralitas dalam persepsi kita.
Beberapa relawan asing, sedikit terganggu dan bertanya balik ke saya, apakah hubungan dengan Tuhan yang penuh keintiman harus dilegalkan di hadapan manusia lain?
Hanya sekedar bercerita saja, sebelum saya mendirikan Omah Backpacker, saya termasuk golongan bukan penganut teguh pada agama & kepercayaan apapun. Secara tertulis, saya Islam karena lahir dari keluarga Islam. Just that.
Sholat hanya karena takut dimarahi atau malu sama teman. Tidak ada keterikatan dengan sang Pemilik.
Begitu saya bertemu dengan beberapa relawan asing yang sedang dalam "perjalanan mencari kitab suci", saya mulai tergerak untuk belajar dan mendalami spiritualitas. Sungguh di luar dugaan, saya menemukan banyak keajaiban dan pembuktian kebesaran-Nya.
Pengalaman spiritual yang mengantarkan saya tentang siapa saya, kenapa saya diciptakan, dan bagaimana kita menjalani kehidupan yang baik dalam hubungan dengan Allah dan dengan makhluk lainnya.
Keterbukaan hati dan pemikiran saya jelas kehendak dari-Nya melalui perantara para relawan asing yang mampir ke Omah Backpacker.
Dari mereka saya belajar tentang hubungan antara Allah dan kita adalah sebuah rahasia & bukan tugas manusia menilai kecintaan manusia lain terhadap penciptaNya. Hanya saja, bagaimana perlakuan manusia kepada manusia yang lain adalah cerminan spiritualitas mereka.