12/06/2021
PERKENALKAN: BTS Meal, produk terbaru keluaran restoran cepat saji McDonald. Isinya nugget, french fries atau kentang goreng, minuman kola, dan dua saus yaitu cajun dan sweet chilli.
Ini bukan produk biasa. Konon, dinarasikan oleh McDoald, ini menu favorit yang biasa dipesan grup musik BTS asal Korea Selatan.
Yang membuatnya istimewa bukan paket makanannya, tapi bungkus makanan yang menggunakan warna khas BTS yaitu ungu, berbeda dengan warna khas McDonald yang merah dan kuning.
Sontak menu baru ini diserbu Army, nama penggemar BTS. Antrean ojek online mengular di gerai-gerai McDonald di sejumlah wilayah di Indonesia. Karena menimbulkan kerumunan, sejumlah gerai ditutup aparat berwenang.
Chef Arnold, juri acara MasterChef, harus merogoh Rp 3 juta untuk mendapatkan menu yang lagi happening ini.
Bah, Rp 3 juta untuk nugget dan kentang goreng. Maaf, ini bukan nugget atau kentang goreng. Ini BTS meal. Beda, Bos.
Anda mungkin sulit membayangkan. Tapi, ini bukan kasus baru. Ada orang yang dengan gembira merogoh ratusan juta rupiah untuk sebuah Hermes. Itu lho, sejenis tas jinjing yang biasa dipakai para perempuan.
Hah, tas jinjing kecil seharga ratusan juta? Maaf, ini bukan tas jinjing. Ini Hermes. Beda, Bosque.
Anda yang tidak familiar dengan Hermes barangkali familiar dengan Brompton. Ada orang yang rela mengeluarkan uang seratus juta untuk sebuah Brompton.
Alamak, sepeda seharga mobil? Maaf, ini bukan sepeda. Ini Brompton. Beda, Bro.
Atau Anda mungkin ingat, beberapa tahun lalu orang mengantre membeli sebuah batu bata dengan logo Supreme seharga Rp 1,5 juta. Batu bata? Sekali lagi maaf, ini bukan batu bata. Ini Supreme. Beda, Kawan.
Nilai tanda dan fetisisme komoditas
Barangkali kita sulit membayangkan fenomena di atas. Tapi sesungguhnya ini realitas kita sehari-hari: mengonsumsi sesuatu bukan karena kebutuhan primernya tapi karena tanda dan makna yang dilekatkan para pedagang pada komoditas itu.
Ini sebenarnya urusan sederhana: soal dagang. Mencari untung. BTS Meal cuma perkara dua jenis saus baru McD.
Tapi dibuat sedemikian complicated oleh para saudagar agar pembeli merasakan sensasi abstrak pada barang yang dibeli. Sensasi itu serupa ectasy, nagih dan ingin lagi, lagi, dan lagi.
Setelah era revolusi industri di abad ke-19, peradaban penghuni planet ini bergulir ke era konsumsi di abad ke-20. Mode of production telah digantikan oleh mode of consumption, kata Jean Baudrillard, sosiolog dan filsuf asal Perancis.
Menurut Baudrillard, seluruh kehidupan manusia adalah objek-objek konsumsi. Melalui objek-objek yang dikonsumsi itu manusia menemukan makna dan eksistensi dirinya.
Jadi, BTS Meal yang fenomenal itu sebenarnya bukan cerita baru. Para pengumpul kapital dengan sangat lihai mampu menstimulasi hasrat manusia untuk tidak berhenti mengonsumsi beraneka ragam komoditas yang dihasilkan oleh mesin-mesin industri kapitalis.
Hasrat mengonsumsi tidak lagi didorong oleh kebutuhan primer atau nilai guna dari sebuah produk, tapi oleh simbol atau tanda yang dilekatkan pada produk itu.
Maka, BTS Meal bukan sekadar nugget atau kentang goreng yang dicocol saus. Ia adalah tanda yang memiliki makna tertentu. Simbol atau tanda ini jauh lebih penting dari nilai gunanya.
Oleh karena itu, jangan heran kalo kardus atau kertas pembungkus BTS Meal dilego dengan harga selangit di toko online.
Barangkali boleh dibilang, BTS Meal adalah sebuah pengalaman abstrak imajinasi fiktif duduk semeja bersama V, Jeon Jung-kook, Jimin, Suga, Kim Seok-jin, RM, dan J-Hope sambil mencocol cajun atau sweet chilli dan mendengarkan Boy with Luv yang menghentak.
Dalam dunia tanda, realitas sejati dan realitas semu sulit dipisahkan, tak dapat dikenali. Ia berkelindan menciptakan realitas baru dalam bentuk ilusi.
Dalam dunia ilusi, yang saling berhubungan bukan lagi antarmanusia, tapi tanda-tanda imajinatif yang menyerupai pengalaman real.
Tanda-tanda ini diciptakan bukan demi memberikan kebahagiaan kepada konsumen, tapi sebenarnya hanya demi satu tujuan: akumulasi modal.
Namun, masyarakat konsumen memuja nilai tanda itu. Theodore Adorno dari Sekolah Frankfurt mencetuskan istilah yang dapat menggambarkan situasi ini: fetisisme komoditas, pemujaan atas sebuah produk industri.
Repost
Ingaaa.. Ingaaa..
Posyandu
teman brjuang para mekanik akar rumput.