PIT STOP MOTOR Jember

PIT STOP MOTOR Jember SIAP MENGERJAKAN : Ketok/kenteng bodi, cat, poles+salon, mesin.. inShaaAllah, kami siap melayani semua tentang mobil anda...

26/09/2022

Wahai kaum muslimah, adakah air mata kita yang jatuh berurai ketika wahyu Allah dihinakan, dipinggirkan, dan dipandang rendah? Apakah kita benar-benar telah merasakan kepedihan yang mendalam saat wahyu Allah tidak dijadikan sebagai sandaran bagi kehidupan kaum muslim?
-

Taat Tanpa Syarat

https://muslimahnews.net/2022/09/26/12006/
-

Penulis: Ummu Aiman

Muslimah News, NAFSIYAH — Sering terungkap dalam percakapan sesama pengemban dakwah, mengapa sulit sekali memberikan konstribusi lebih dalam amanah dakwah? Padahal dengan dakwah, seluruh perintah Allah Azza wa Jalla akan tegak dengan sempurna, sebagaimana dicontohkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, para sahabatnya, dan khulafaurasyidin yang mulia.

Jawaban yang sering terdengar adalah: saya sudah tua, saya sakit-sakitan, saya tidak punya ilmu, saya tidak bisa apa-apa, anak saya banyak, banyak pekerjaan rumah, habis waktu karena bekerja, baik untuk menambal ekonomi keluarga maupun untuk aktualisasi diri, dan hal-hal lain.

Mereka akhirnya tampak jauh dari upaya besar untuk berkorban demi menyempurnakan fardu kifayah kaum muslim. Padahal dengan kefarduan inilah ketaatan total kepada Allah Rabbulalamiin dalam seluruh aspek kehidupan dapat segera terealisasi.

-
Belajar dari Sosok Sahabiyat
-

Ada sekelumit kisah tentang sahabiyat yang juga pengasuh Rasulullah saw. saat beliau kecil, Ummu Aiman, radhiyallaahu ‘anha,

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ الْكِلَابِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ فَقَالَا لَهَا مَا يُبْكِيكِ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدْ انْقَطَعَ مِنْ السَّمَاءِ فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلَا يَبْكِيَانِ مَعَهَا

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb, telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bin ‘Ashim Al Kilabi, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah dari Tsabit dari Anas dia berkata, “Tidak lama setelah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam wafat, Abu Bakar berkata kepada Umar, ‘Ikutlah dengan kami menuju ke rumah Ummu Aiman untuk mengunjunginya sebagaimana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam selalu mengunjunginya.‘ Dan ketika kami telah sampai di tempatnya, Ummu Aiman pun menangis. Lalu mereka berdua berkata kepadanya, ‘Kenapa kau menangisi beliau, bukankah apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasul–Nya sallallahu alaihi wasallam?‘ Ia menjawab, ‘Bukanlah aku menangisi beliau, karena aku tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasul–Nya, tetapi aku menangis karena dengan wafatnya beliau berarti wahyu dari langit telah terputus.‘ Ummu Aiman pun membuat mereka berdua bersedih dan akhirnya mereka berdua pun menangis bersamanya.” (HR Muslim no 4492)

Sungguh riwayat ini memberi kita pelajaran tentang kualitas keimanan seorang Ummu Aiman ra., sang pengasuh yang begitu mencintai baginda Rasulullah saw.. Saat sosok yang mulia ini wafat, yang ia tangisi adalah wahyu yang tidak akan turun lagi dari langit.

Lalu bagaimanakah dengan kita? Adakah kepedulian yang sama terhadap wahyu Allah yang sudah turun dengan sempurna? Adakah air mata yang jatuh berurai ketika wahyu Allah dihinakan, dipinggirkan, dan dipandang rendah?

Apakah kita benar-benar telah merasakan kepedihan yang mendalam saat wahyu Allah tidak dijadikan sebagai sandaran bagi sendi-sendi kehidupan kaum muslim? Sekeras apakah hati kita ketika kita tidak bisa merasakan apa yang dirasakan ummu Aiman radhiyyallahu anha yang menangis karena wahyu Rabbnya benar-benar terputus?

-
Nyawa Pun Siap Dikorbankan
-

Keistimewaan Ummu Aiman tidak hanya itu. Pada Perang Uhud, Ummu Aiman berangkat bersama para wanita. Peran yang ia utamakan adalah mengobati orang-orang yang terluka dan memperhatikan mereka, serta memberi minum para mujahidin yang kehausan.

Beliau berkeliling membawa air, dan memberi minum kepada orang-orang yang terluka, kehausan, dan kepayahan.

Ummu Aiman pun memercikkan tanah ke wajah para prajurit yang desersi dari medan Uhud. Beliau melemparkan alat tenun kepada salah seorang prajurit itu lalu mengatakan, “Berikan pedangmu (kepadaku) dan ini (ambillah) alat tenunku untukmu!”

Pada Perang Khaibar, Ummu Aiman bersama dua puluh orang wanita berangkat menuju medan perang bersama Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukan kaum muslim. Adapun anaknya, Aiman, tidak ikut dalam perang ini karena kudanya sakit. Meski memiliki alasan, ibunya menyifatinya sebagai pengecut.

Pada Perang Mu’tah, suaminya (Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu) wafat sebagai syuhada. Ummu Aiman menerima berita tersebut dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah. Pada perang Hunain, anaknya (Aiman) juga mati sebagai syuhada. Kembali beliau bersabar dan mengharap pahala dari Allah dengan kematian anaknya. Beliau hanya mengharapkan keridaan Allah dan keridaan Rasul-Nya sallallahu alaihi wasallam.

-
Tidak Mundur Saat Menghadapi Ujian
-

Ummu Aiman termasuk golongan pertama orang yang masuk Islam. Ia bernasib seperti sahabat yang lainnya yang memeluk Islam yaitu mendapatkan siksaan serta hinaan dari kaum kafir Quraisy.

Ketika kaum musyrikin semakin keras dalam menyiksa dirinya beserta orang-orang yang masuk Islam bersamanya, Rasulullah saw. mengizinkan mereka untuk hijrah ke negeri Habasyah. Dengan demikian, Ummu Aiman merupakan salah seorang wanita yang hijrah untuk menyelamatkan agamanya dari kezaliman dan penyiksaan kaum musyrikin.

Ketika kembali ke Makkah al-Mukarramah, Ummu Aiman tidak lagi menghiraukan dirinya dan bersabar dalam menghadapi cacian, ancaman, dan penyiksaan. Pada akhirnya, datanglah pertolongan dari Allah Swt.. Ummu Aiman hijrah ke Madinah al-Munawwarah bersama orang-orang yang hijrah bersama Nabi Muhammad saw..

Pada saat hijrah ke Madinah al-Munawwarah itu, Ummu Aiman berpuasa, bangun malam, dan hijrah dengan berjalan kaki. Ia tidak memiliki sedikit pun bekal ataupun minuman hingga acapkali tersiksa oleh kehausan karena panas yang begitu menyengat di tengah sahara.

Ketika matahari tenggelam dan waktu berbuka tiba, Allah Swt. menurunkan karamah yang besar kepadanya dan tidak bisa terlihat oleh seorang pun yang berjalan bersamanya. Ketika itu Allah menurunkan sebuah ember dari langit berisi air yang diselimuti oleh cahaya putih. Ummu Aiman segera mengambil ember itu dan meminum isinya hingga kenyang.

Ummu Aiman berkata, “Sesudah itu, aku tidak pernah lagi merasa haus. Aku biasa berpuasa di bawah terik matahari dan tidak merasa haus.” (Bassam Muhammad Hamami, Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam).

-
Taat Tanpa Syarat
-

Ummu Aiman radhiyyallahu anha telah memberi teladan yang luar biasa dalam menjalani ketaatan total kepada Allah Swt.. Tidak ada syarat apa pun yang diajukan dalam perjuangan ketaatan ini.

Tanpa harta, beliau berhijrah. Ketika usia tua, beliau tetap aktif berkontribusi dalam medan perjuangan dakwah.

Beliau menjadi istri yang luar biasa, merelakan suami tercinta syahid di perang Mu’tah. Juga menjadi Ibu yang hebat karena memiliki anak yang siap berjuang membela Islam.

Aiman putra tercinta syahid pada perang Hunain, sementara Usamah putra tercinta menjadi pemimpin termuda bagi pasukan yang menghadapi pasukan kuat romawi dan berhasil mengalahkannya hanya dalam waktu 40 hari (termasuk pembagian ganimah). Bahkan pengiriman pasukan ini memberi dampak besar terhadap kukuhnya Daulah Islamiah di Madinah, setelah wafatnya Rasulullah sallalahu alaihi wasallam.

Sungguh, Ummu Aiman radhiyyallahu anha telah membuktikan bahwa ketaatan total kepada Allah tidak membutuhkan syarat apa pun. Oleh karena itu, taatlah, bekerjalah, dan berikanlah sebanyak mungkin konstribusi untuk kemenangan dakwah Islam. Karena ketaatan kepada Allah sejatinya akan memberikan jawaban bagi setiap persoalan hidup yang selalu dijadikan syarat (baca: penghalang) untuk berpartisipasi lebih dalam dakwah li i’laa-i kalimatillah.

-
Tangisan Yang Mulia
-

Ketika Khalifah Umar bin Khaththab radhiyyallahu anhu wafat setelah peristiwa penusukan kepada beliau oleh Abu Lu’lu’ah, Ummu Aiman radhiyyallahu anha menangisi kematiannya sambil berkata, “Hari ini Islam melemah (dengan terpecahnya pintu fitnah).”

Wanita agung lagi mulia ini menangis karena kekuatan kaum muslim mulai terpecah-belah seiring syahidnya Khalifah Umar bin Khaththab radhiyyallahu ‘anhu. Sungguh tangisan yang sangat berarti, tangisan dari hati yang terbakar karena panji Islam melemah.

Wahai Ummu Aiman, wahai ibunda Usamah bin Zaid pemimpin perang termuda pilihan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, wahai istri dari Zaid bin Haritsah pemilik singgasana emas di surga-Nya, sungguh tetesan air matamu sangat mulia.

Bagaimanakah perasaan Anda saat melihat keadaan umat saat ini, ketika panji Islam melemah, bahkan tercabik-cabik? Bagaimana p**a seandainya Anda melihat kami para muslimah pengemban dakwah, masih banyak mengeluh, masih banyak memberi alasan, masih terjerat rantai kemalasan dan hawa nafsu duniawi?

Yang paling menyedihkan, kami sering tidak mampu menangis, padahal rintihan kaum muslim terdengar jelas. Bahkan kami tidak mampu meneteskan airmata, meski kaum kafir terus merusak agama-Nya di depan kami. Wahai kaum muslimah, bagaimanakah keadaan tangisan kita ini? [MNews/Rgl]

26/09/2022

Merespons dugaan korupsi yang dilakukan Gubernur Papua Lukas Enembe, Dosen Ilmu Pemerintahan UMY Dr. Suswanta, M.Si. menduga anggaran yang begitu besar menjadi penyebabnya.
-

Anggaran Besar Tanpa Dibarengi Pengawasan Diduga Menjadi Penyebab Korupsi Gubernur Papua


https://muslimahnews.net/2022/09/26/12002/
-

Muslimah News, NASIONAL — Menkopolhukam Mahfud M. D. mengumumkan dugaan korupsi yang dilakukan Gubernur Papua Lukas Enembe. Bersama Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavananda, serta Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata, Mahfud mengumumkan kasus itu dalam konferensi pers di kantornya, Senin (19/09/2022).

“Lukas Enembe bukan hanya diduga menerima gratifikasi sebanyak Rp1 miliar. Di balik itu, PPATK menemukan dugaan bahwa Lukas menyimpan dan mengelola uang yang jumlahnya mencapai ratusan miliar rupiah,” ujar Mahfud.

Dugaan korupsi yang dilakukan Lukas, kata Mahfud, meliputi alokasi janggal anggaran untuk pimpinan Pemprov Papua yang nilainya mencapai ratusan miliar. “Selain itu, ada p**a dugaan penyelewengan dana Pekan Olahraga Nasional dan dugaan bahwa Lukas memiliki manajer untuk melakukan pencucian uang,” ucapnya.

-
Setor ke Kasino
-

Sementara itu, Kepala PPATK Ivan mengatakan lembaganya menemukan dugaan bahwa Lukas menyetorkan secara tunai uang sejumlah Rp560 miliar ke kasino. “Uang itu disetorkan ke rumah judi dalam periode yang tidak sebentar. Salah satu yang ditemukan PPATK, Lukas diduga pernah menyetorkan secara langsung uang sejumlah $5 juta ke rumah judi. Itu nilai yang fantastis,” katanya.

Menurut Ivan, ada dua negara yang diduga menjadi tempat Lukas melakukan transaksi perjudian. Ia tidak menyebutkan kedua negara tersebut. Namun, ia mengatakan telah menyerahkan data mengenai aktivitas judi itu ke KPK.

-
Anggaran Besar
-

Menyorot kasus tersebut, Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr. Suswanta, M.Si. menduga anggaran yang begitu besar menjadi penyebab korupsi.

“Adanya anggaran bagi Papua yang begitu besar diduga menjadi sebab terjadinya korupsi. Anggaran untuk provinsi Papua dan Papua Barat pada 2022 sangat besar yaitu 84,7 triliun (otsus, tambahan infrastruktur, dana desa dan kementerian/lembaga),” ungkapnya kepada MNews, Ahad (25/9/2022).

Suswanta mengatakan, kewenangan mengelola anggaran tidak dibarengi dengan pengawasan baik oleh instansi terkait, media dan masyarakat. Selain itu, kata Suswanta, gaya hedonis pejabat juga menjadi faktor pendorong bagi pejabat untuk melakukan korupsi.

Suswanta menduga penangkapan Gubernur Papua juga ada kaitannya dengan kompetisi politik. “Penangkapan Gubernur Papua selain karena memang korupsi ratusan miliar tetapi juga karena yang bersangkutan kader Demokrat (kompetisi politik Demokrat versus PDIP),” duganya.

Ia juga mengatakan, korupsi oleh Gubernur Papua sudah lama diketahui pusat, tetapi tidak ditindak. “Hal ini dilakukan untuk menjaga Papua agar tidak lepas dari NKRI,” ujarnya.

-
Biaya Politik Tinggi
-

Selain itu, Suswanta menilai, gubernur dan walikota/bupati yang tersangkut korupsi disebabkan karena biaya politik yang tinggi.

“KPK mencatat (2022) ada 122 kasus korupsi yang melibatkan bupati/walikota/wakilnya (dari 416 kabupaten/kota), 21 kasus melibatkan gubernur (dari 34 provinsi). Penyebabnya karena biaya politik tinggi (rata-rata 10-30 miliar untuk pilkada bupati/walikota, 100 miliar untuk pilkada gubernur),” ungkapnya.

Menurutnya, biaya tersebut tidak sebanding dengan gaji pokok dan tunjangan gubernur/bupati/walikota sehingga dibutuhkan cukong untuk membantu pencalonan.

“Cukong yang membantu gubernur/bupati/walikota terpilih akan menagih janji dan minta dimenangkan dalam proyek,” cetusnya.

-
Akar Masalah
-

Suswanta memerinci, akar masalah terjadinya korupsi setidaknya karena empat hal. “Pertama, sistem yang rusak, mulai dari rekrutmen (pemilu) biaya tinggi, kemudahan cukong-cukong politik dan keluarga (KKN ditambah banyak pejabat sekaligus pengusaha) dalam memperoleh izin pengelolaan SDA, tender pengadaan barang dan jasa dan proyek-proyek pemerintah,” katanya.

Kedua, lanjutnya, individu pejabat yang rendah integritas keilmuan dan kepribadiannya (hedonis dan tamak). “Ketiga, rusaknya aturan hukum dan penegakannya (penegak hukum juga menjadi koruptor). Keempat, lemahnya pengawasan oleh instansi terkait, media dan masyarakat,” bebernya.

Solusi atas permasalahan ini, kata Suswanta, diperlukan sistem alternatif yang mampu mewujudkan pemimpin yang berkualitas dan amanah dengan mekanisme pemilihan tanpa korupsi dan manip**asi.

“Sistem yang mampu mencerdaskan rakyat dan media untuk berani melakukan amar makruf nahi mungkar dan mengawasi jalannya pemerintahan,” pungkasnya. [MNews/IA]

Done is Well....
23/11/2020

Done is Well....

07/09/2020
Family Gathering PitStopMotor Jember
01/09/2020

Family Gathering PitStopMotor Jember

Selalu mewah warna Burgundy....
23/08/2020

Selalu mewah warna Burgundy....

Done
23/08/2020

Done

23/08/2020

Address

Cluster Teratai Hill F1, Jalan Teratai, Gebang Tunggul, Patrang
Jember
68117

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PIT STOP MOTOR Jember posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to PIT STOP MOTOR Jember:

Share